Kelompokketiga berbicara tentang tiga macam rahib. Kelompok keempat berbicara tentang empat macam jalan menuju Nirwana. Begitu seterusnya sampai kelompok kesebelas yang berbicara tentang sebelas macam kebajikan dan sebelas macam kemunkaran. Kuddhaka Nikaya, kumpulan berbagai sutta, berisikan pembahasan tentang hal-hal yang tidak termasuk Melaluibuku YESUS KRISTUS JURUSELAMAT DUNIA ini, kiranya Tuhan bekerja dalam hati kaum pilihan-Nya, sehingga mereka yang diberikan bibit mencari Tuhan – karena mereka terlebih dahulu dicari Tuhan – boleh menemukan jawabannya yang diinginkan oleh Tuhan, bukan manusia. Soli Deo Gloria. Jakarta, Maret 2004. B Landasan Historis Pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang. Pendidikan itu telah ada sejak zaman kuno/tradisional yang dimulai dengan zaman pengaruh agama Hindu dan Budha, zaman pengaruh Islam, zaman penjajahan, dan zaman merdeka (ibid.: 125). Mudyahardjo (2008) dan Nasution (2008) menguraikan BukuKhotbah yang Berkuasa di Tokopedia ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Cicilan 0% ∙ Kurir Instan. Rm6:1-14, Kolose 2 : 11-12 ). Dalam baptisan baik baptisan bayi (anak-anak) orang percaya maupun baptisan dewasa (orang kafir yang bertobat dan percaya oleh penginjilan) jelaslah terlihat bahwa :” B ukan kita yang yang memilih Tuhan, melainkan Tuhanlah yang memilih kita “ (Bdk.Yoh 15:16). Dalam karya pelepasan-Nya, Allah senantiasa Khotbahadalah salah satu cara yang dipakai untuk mengkomunikasikan pesan. [1] Dalam tradisi Kristen, pesan ini didasarkan pada apa yang tertulis di dalam Alkitab atau yang biasa disebut . DHAMMA-SARI Disusun oleh Maha Pandita Sumedha Widyadharma Penerbit Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda Cetakan Kesembilan, 1994 BAB III EMPAT KESUNYATAAN MULIA Kesunyataan Mulia Pertama Dukkha Yang menjadi pokok ajaran Sang Buddha terletak pada Empat Kesunyataan Mulia ini yang Beliau babarkan dalam khotbah-Nya yang pertama kepada lima orang pertapa bekas teman seperjuangan-Nya di Isipatana sekarang Sarnath dekat Benares. Dalam khotbah ini yang dapat kita ketahui dari teks aslinya, Empat Kesunyataan Mulia ini dikhotbahkan tidak secara panjang lebar. Tetapi di bagian-bagian lain yang tidak terhitung jumlahnya, ajaran ini dibabarkan dan diterangkan berulang-ulang dengan lebih terperinci dan dengan berbagai macam cara. Kalau kita mempelajari Empat Kesunyataan Mulia dari keterangan dan perincian tersebut di atas, kita akan mendapat gambaran yang baik dan tepat tentang ajaran yang penting ini sesuai dengan teksnya yang asli. Empat Kesunyataan Mulia terdiri dari D u k k h a, dukkha D u k k h a S a m u d a y a, sumber dukkha D u k k h a N i r o d h a, terhentinya dukkha M a g g a, jalan yang menuju ke terhentinya dukkha. KESUNYATAAN MULIA PERTAMA D U K K H A Kesunyataan Mulia Pertama Dukkha Ariyasacca pada umumnya oleh hampir semua sarjana diterjemahkan sebagai “Kesunyataan Mulia Pertama tentang penderitaan” dan ini menurut anggapan mereka harus diartikan bahwa menurut paham Buddhis, penghidupan ini tidak lain daripada penderitaan dan kesakitan. Terjemahan dan arti yang diberikan itu kedua-duanya ternyata tidak memuaskan dan dapat menimbulkan kesalahpahaman. Dengan adanya terjemahan yang singkat dan bebas ini, banyak orang mendapat gambaran salah bahwa agama Buddha adalah pesimistis. Di sini dengan tegas dinyatakan bahwa agama Buddha bukan pesimistis dan juga bukan optimistis, tetapi yang benar adalah bahwa agama Buddha adalah agama yang realistis. Yaitu yang mengajar kita untuk melihat hidup dan kehidupan di dunia ini dengan cara realistis. Agama Buddha melihat benda-benda dan segala sesuatunya dengan obyektif jathabhutang dan tidak menggambarkan secara keliru dan bodoh bahwa “penghidupan ini sorga” dan juga tidak ingin menakut-nakutkan umatnya dengan berbagai macam hukuman dan dosa yang tidak masuk akal. Agama Buddha memberitahukan kepada Anda secara wajar dan tanpa tedeng aling-aling tentang siapa sebenarnya Anda dan apakah yang ada di sekeliling Anda dan juga menunjukkan jalan untuk mencapai kebebasan sempurna, ketenangan, keseimbangan dan kebahagiaan. Seorang dokter mungkin secara berlebih-lebihan menilai bahwa seorang-pasien terlalu parah sakitnya dan tidak mungkin dapat disembuhkan. Dokter yang lain lagi secara tidak bertanggung jawab menyatakan bahwa orang sakit itu sama sekali tidak sakit apa-apa dan karena itu tidak memerlukan obat; sehingga orang sakit itu mendapat hiburan yang tidak pada tempatnya. Kita dapat menamakan dokter yang pertama sebagai pesimistis dan dokter yang kedua optimistis, namun kedua-duanya sebenarnya sama-sama berbahaya. Tetapi dokter yang ketiga dengan terang dapat melihat gejala-gejala orang sakit itu, mengetahui juga sebab dari penyakitnya, melihat dengan jelas bahwa orang sakit itu dapat disembuhkan dan dengan bertanggung jawab memberi pengobatan sehingga jiwa orang sakit itu dapat ditolong. Nah, Sang Buddha dapat diumpamakan sebagai dokter yang ketiga ini. Beliau adalah dokter yang pandai dan bijaksana yang dapat menyembuhkan penyakit manusia di dunia ini Bhisaka atau Bhaisajya-Guru. Tidak dapat disangkal bahwa kata Pali “dukkha” dalam percakapan sehari-hari berarti “derita”, “sakit”, “sedih” atau “masygul” sebagai lawan dari kata “sukha” yang berarti “bahagia”, “senang” atau “gembira”. Tetapi kata “dukkha” yang dipakai, dalam Kesunyataan Mulia Pertama, yang merupakan pandangan Sang Buddha tentang kehidupan dalam bentuk apa pun juga, mempunyai arti filosofis yang lebih dalam dan mencakup bidang yang sangat luas. Kata “dukkha” dalam Kesunyataan Mulia Pertama selain berarti “derita” biasa juga, mempunyai arti yang lebih dalam lagi, seperti “tidak sempurna”, “tidak kekal”, “kosong”, “tanpa inti”, dll. Dari itu, sulit sekali untuk menemukan satu kata yang dapat mencakup seluruh arti istilah “dukkha” dalam Kesunyataan Mulia Pertama. Karena itu, dianggap lebih bijaksana untuk tidak menterjemahkannya daripada memberikan terjemahan yang salah dan tidak sempurna seperti “derita” dan “sakit”. Sang Buddha belum pernah tidak mengakui adanya kebahagiaan dalam kehidupan. Sebaliknya Beliau mengakui tentang berbagai bentuk kebahagiaan, materiil maupun spiritual, bagi orang biasa dan juga bagi para bhikkhu. Dalam kitab Angutara-Nikaya, salah satu kitab yang berisi koleksi asli dalam bahasa Pali dari khotbah-khotbah Sang Buddha, dapat ditemukan satu daftar dari kebahagiaan sukhani, misalnya kebahagiaan kehidupan berkeluarga dan kebahagiaan seorang pertapa, kebahagiaan getaran-getaran hawa nafsu dan kebahagiaan dari orang yang menyingkir dari kehidupan duniawi, kebahagiaan terikat kepada sesuatu dan kebahagiaan karena terbebas dari ikatan-ikatan, kebahagiaan badaniah dan kebahagiaan mental, dan lain-lain. Namun, semua kebahagiaan yang disebut di atas juga termasuk dalam dukkha. Bahkan, harus diketahui bahwa keadaan “jhana” yang dapat dicapai dengan melaksanakan samadhi, sehingga orang dapat membebaskan dirinya dari penderitaan dalam arti umum dan berada dalam kebahagiaan yang murni atau keadaan “jhana” yang terbebas dari perasaan “sukha” dan “dukkha” sehingga merupakan keseimbangan dan kesadaran belaka juga termasuk dalam pengertian “dukkha”. Dalam salah satu sutta dari Majjhima-Nikaya, setelah memuji tinggi kebahagiaan batin yang diperoleh dari “jhana”, Sang Buddha kemudian bersabda bahwa kebahagiaan itu akan berubah dan tidak kekal dan karenanya harus digolongkan dalam “dukkha” anicca dukkha viparinama-dhamma. Dari contoh-contoh di atas dapat diketahui dengan jelas, bahwa “dukkha” bukan hanya disebabkan oleh penderitaan dalam arti umum, tetapi segala sesuatu yang tidak kekal pun adalah “dukkha” Yad aniccang tang dukkhang. Sang Buddha adalah Orang yang realis dan objektif. Dalam hubungan dengan penghidupan dan kebahagiaan dari hawa-hawa nafsu, Beliau minta agar kita mengerti dengan baik tiga hal perasaan tertarik atau kegembiraan assada akibat yang tidak baik, atau bahayanya, atau perasaan tidak puas adinava perasaan tidak terikat atau terbebas nissarana. Kalau Anda melihat seorang yang baik budinya, manis bahasanya dan bagus orangnya, Anda akan merasa suka, tertarik dan merasa gembira kalau sering-sering dapat bertemu dengan orang itu. Anda memperoleh kesenangan dan kepuasan bertemu, dengan orang tersebut. Inilah yang dinamakan kegembiraan assada. Hal ini dapat kita alami sendiri. Tetapi kegembiraan ini tidak kekal sebagaimana juga halnya dengan orang itu; dan segala sesuatu yang membuatnya tertarik juga tidak kekal. Kalau Anda karena sesuatu sebab misalnya tidak dapat bertemu dengan orang itu sehingga, tidak mendapat peluang untuk menjadi senang dan gembira, Anda akan menjadi kecewa sekali dan mungkin Anda dapat melakukan perbuatan yang tidak pantas. Inilah yang dinamakan “tidak baik”, “berbahaya” dan “tidak memuaskan” adinava. Hal inipun dapat kita alami sendiri dalam penghidupan kita sehari-hari. Kemudian kalau Anda tidak mempunyai ikatan apa-apa dengan orang itu dan juga tidak merasa tertarik, maka hal inilah yang dinamakan “tidak terikat” dan “terbebas” nissaana. Ketiga hal yang tersebut di atas merupakan kenyataan hidup yang ada hubungannya dengan kegembiraan dalam kehidupan. Dengan contoh-contoh yang diberikan di atas, mungkin sekarang Anda mendapat gambaran yang agak jelas bahwa persoalannya bukanlah pesimistis atau optimistis, tetapi kita harus mengetahui dengan jelas segala sesuatu yang berhubungan dengan kegembiraan dalam kehidupan, hal-hal yang dapat menyakiti hati dan yang membuat kita sedih, dan hal-hal yang membebaskan kita dari kesedihan dan penderitaan itu. Dengan demikian barulah kita dapat memahami hidup ini secara menyeluruh dan obyektif. Selanjutnya, barulah dapat dicapai pembebasan diri yang benar. Mengenai hal ini Sang Buddha pernah bersabda sbb. “O siswa-Ku, kalau seorang pertapa atau brahmana belum dapat mengerti dengan baik bahwa kegembiraan dari hawa nafsu adalah kegembiraan, ketidakpuasan karenanya adalah ketidakpuasan, kebebasan dari padanya adalah kebebasan, maka tidaklah mungkin mereka dapat memahami secara menyeluruh keinginan-keinginan yang timbul dari hawa nafsu. Dengan demikian mereka tidak dapat mengajar orang lain dan orang lain yang mengikuti petunjuk-petunjuk mereka tidak akan dapat memahami secara menyeluruh keinginan-keinginan hawa nafsu itu. Tetapi, O siswa-Ku, kalau seorang pertapa atau brahmana dapat mengerti dengan baik bahwa kegembiraan dari hawa nafsu adalah kegembiraan, ketidakpuasan oleh karenanya adalah ketidakpuasan, kebebasan dari padanya adalah kebebasan, maka mereka akan dapat mengerti secara menyeluruh keinginan yang timbul dari hawa nafsu dan mereka akan dapat mengajar orang lain untuk dapat memahaminya; dan orang lain yang mengikuti petunjuk-petunjuknya akan dapat memahami secara menyeluruh keinginan-keinginan hawa nafsu itu.” Konsep dukkha dapat ditinjau dari tiga segi dukkha sebagai derita biasa dukkha-dukkha dukkha sebagai akibat dari perubahan-perubahan viparinama-dukkha dukkha sebagai akibat dari keadaan yang berkondisi sankhara-dukkha. Semua jenis penderitaan dalam penghidupan seperti dilahirkan, berusia tua, mati; bekerjasama dengan orang yang tidak disukai atau harus berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan; dipisahkan dari orang yang dicintai atau keadaan yang disenangi; tidak memperoleh sesuatu yang didambakan; kesedihan, keluh-kesah, kegagalan dan semua bentuk derita fisik dan mental yang oleh umum dianggap sebagai derita dan sakit dapat digolongkan dalam “dukkha sebagai derita biasa” dukkha-dukkha. Suatu perasaan bahagia, suatu keadaan bahagia dalam kehidupan adalah tidak kekal. Cepat atau lambat hal ini akan berubah dan perubahan ini akan menimbulkan kesedihan, derita dan ketidakbahagiaan. Semua ini dapat digolongkan dalam “dukkha sebagai akibat dari perubahan-perubahan” viparinama-dukkha. Mudah sekali untuk dapat mengerti akan kedua segi dukkha yang disebut di atas. Tidak seorangpun yang dapat menyangkalnya. Kedua segi ini memang merupakan gambaran umum tentang penghidupan kita sehari-hari. Tetapi, segi ketiga dari dukkha sebagai akibat dari keadaan yang berkondisi merupakan segi yang paling penting dari Kesunyataan Mulia Pertama ini dan memerlukan pembahasan secara analitis tentang apa yang kita anggap sebagai “makhluk”, sebagai “orang” atau sebagai “aku” itu. Menurut paham Buddhis, apa yang kita anggap sebagai makhluk, orang atau “aku” hanya merupakan kombinasi dari kekuatan atau energi fisik dan mental yang selalu dalam keadaan bergerak dan berubah, yang terdiri atas Lima Kelompok Kegemaran pancakkhanda. Sang Buddha pernah bersabda sbb. “Dengan singkat dapat dikatakan bahwa Lima Kelompok Kegemaran ini adalah dukkha”. Pada kesempatan lain Beliau dengan tegas menyatakan bahwa dukkha ialah Lima Kelompok Kegemaran. “O bhikkhu, apakah dukkha itu? Harus diketahui bahwa Lima Kelompok Kegemaran itu adalah dukkha.” Kita harus mengerti dengan jelas bahwa dukkha dan Lima Kelompok Kegemaran bukanlah dua hal yang berbeda; Lima Kelompok Kegemaran itu sendiri adalah dukkha. Kita akan dapat mengerti lebih baik persoalan ini apabila kita sudah menelaah lebih lanjut Lima Kelompok Kegemaran tersebut yang merupakan unsur-unsur dari apa yang kita namakan “makhluk”. Sekarang marilah kita menelaah Lima Khandha tersebut. LIMA KHANDA Khandha pertama ialah “kegemaran kepada bentuk” rupakkhandha. Dalam kelompok ini termasuk empat Mahabhuta, yaitu empat unsur yang terdiri dari benda padat, cair, panas dan gerak. Juga termasuk dalam kelompok ini benda-benda dan hal-hal yang dapat kita hubungkan dengan empat Mahabhuta itu seperti lima indria kita mata, hidung, telinga, lidah dan badan dengan obyek-sasarannya seperti bentuk-bentuk yang terlihat, suara, bebauan, perasaan lidah dan benda-benda yang dapat disentuh, dan juga pikiran, gagasan dan konsepsi yang berada dalam alam obyek pikiran dhammayatana. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bentuk-bentuk secara keseluruhan, baik yang berada di dalam badan kita maupun obyek sasarannya, tercakup dalam Rupakkhanda ini. Khandha kedua ialah “kegemaran kepada perasaan” vedanakkhanda. Dalam kelompok ini termasuk semua perasaan perasaan bahagia, perasaan tidak bahagia dan perasaan netral yang timbul karena adanya kontak dari indria kita dengan dunia luar. Ada enam jenis perasaan perasaan yang timbul dari kontak melalui mata dengan bentuk-bentuk yang terlihat; telinga dengan suara, hidung dengan bebauan; lidah dengan benda-benda yang melalui mulut; badan dengan sentuhan-sentuhan; dan pikiran dengan obyek pikiran, gagasan dan konsepsi. Semua perasaan fisik dan mental termasuk dalam kelompok ini. Ada baiknya untuk membahas secara singkat apa sebetulnya yang dimaksud dengan istilah “pikiran” manas dalam filsafat Buddhis. Kita harus mengerti dengan baik bahwa yang dimaksud dengan manas bukanlah “jiwa” sebagai lawan dari “badan jasmani”. Manas sebenarnya juga sebuah indria sebagaimana halnya dengan mata atau telinga. Manas atau pikiran dapat dikontrol dan dikembangkan seperti indria yang lain dan Sang Buddha sering berbicara mengenai faedah mengontrol dan mengembangkan keenam indria ini. Perbedaan antara indria mata dan indria pikiran ialah bahwa mata berhubungan dengan warna dan benda yang tampak, sedangkan pikiran berhubungan dengan alam pikiran, gagasan serta obyek mental. Kita mengetahui berbagai hal di dunia ini melalui berbagai indria yang kita miliki. Misalnya, kita tidak dapat mendengar warna, tetapi kita melihat warna; sebaliknya, kita tidak dapat melihat suara, tetapi kita mendengar suara. Dengan lima indria fisik kita hanya dapat mengetahui bentuk-bentuk yang terlihat, suara, bebauan, perasaan lidah dan benda-benda yang dapat disentuh. Tetapi, kesemuanya ini baru merupakan sebagian dari isi dunia ini. Sebab, bagaimana dengan gagasan-gagasan dan pikiran? Mereka pun merupakan bagian dari dunia ini. Tetapi kita tidak dapat mengetahui mereka dengan perantaraan indria mata, telinga, hidung, lidah dan badan jasmani. Namun, mereka dapat kita ketahui melalui indria keenam yaitu indria pikiran. Tetapi, harus pula disadari bahwa pikiran dan gagasan-gagasan tidaklah berdiri sendiri terlepas dari pengalaman-pengalaman lima indria fisik lainnya. Pada hakekatnya mereka tergantung kepada dan timbul oleh pengalaman fisik. Seorang yang dilahirkan buta tidak mempunyai ide gambaran tentang warna, kecuali melalui perbandingan dari suara atau hal-hal lain yang ia pernah alami dengan indrianya yang lain. Dengan demikian, jelas bahwa hal-hal lain yang merupakan bagian dari dunia ini, dihasilkan dan disebabkan oleh pengalaman-pengalaman fisik yang telah dicerap oleh pikiran kita. Oleh karena itu, pikiran manas dapat dianggap sama seperti indria-indria lain, misalnya mata atau telinga. Khanda ketiga ialah “kegemaran kepada pencerapan” saññakkhandha. Sebagaimana halnya dengan perasaan, pencerapan ini pun terdiri dari enam jenis yang berhubungan dengan keenam indria kita dengan obyek sasaran masing-masing. Seperti juga perasaan, pencerapan tercipta oleh karena enam indria kita mengadakan kontak dengan dunia luar. Pencerapan inilah yang mengenali obyek, baik yang merupakan obyek fisik maupun obyek mental. Khandha keempat ialah “kegemaran akan bentuk-bentuk pikiran” sankharakkhandha. Dalam kelompok ini termasuk semua kegiatan “kehendak” kita, yang baik maupun yang buruk. Yang dikenal oleh masyarakat umum sebagai “kamma” termasuk dalam kelompok ini. Kita harus selalu ingat akan definisi tentang kamma yang diberikan oleh Sang Buddha sendiri “O bhikkhu, kehendak cetana itulah yang Aku namakan kamma. Sesudah berkehendak orang kemudian berbuat dengan badan jasmani, ucapan atau pikiran”. Kehendak cetana adalah satu bentuk mental, kegiatan mental. Tugasnya ialah untuk mengarahkan pikiran kita ke perbuatan baik, perbuatan buruk atau perbuatan netral. Sebagaimana halnya perasaan dan pencerapan, kehendak ini pun terdiri atas enam jenis yang berhubungan dengan keenam indria kita dengan obyek-sasaran masing-masing, baik benda-benda fisik maupun mental. Perasaan dan pencerapan bukan merupakan perbuatan kehendak. Mereka tak akan menimbulkan buah-kamma. Hanya kegiatan kehendak yang dapat menimbulkan buah-kamma, misalnya Manasikara – perhatian Chanda – keinginan untuk berbuat Adhimokkha – ketetapan hati Saddha – keyakinan Samadhi – samadhi Pañña – kebijaksanaan Viriya – semangat, tenaga, gaya untuk berbuat sesuatu Raga – hawa nafsu Patigha – kebencian, dendam Avijja – ketidaktahuan, kebodohan Mana – kesombongan Sakkayaditthi – ide tentang adanya “aku” yang kekal dan terpisah Semuanya terdapat 52 kegiatan mental yang dapat digolongkan dalam “kegemaran akan bentuk-bentuk pikiran” Khandha kelima ialah “kegemaran akan kesadaran” viññana-kkhanda . Kesadaran adalah reaksi atau respon yang mempunyai dasar salah satu dari keenam indria kita dengan obyek-sasaran dari indria yang bersangkutan. Misalnya, kesadaran mata cakkhu-viññana mempunyai mata sebagai dasar dan sebagai obyek-sasaran, benda-benda yang dapat dilihat. Kesadaran pikiran mano-viññana mempunyai pikiran sebagai dasar dan ide atau gambar-pikiran sebagai obyek. Dari kedua contoh tersebut di atas dapat kita lihat bahwa kesadaran selalu dihubungkan dengan indria-indria kita. Sebagaimana halnya perasaan, pencerapan dan kehendak, kesadaran pun terdiri atas enam jenis; yaitu yang berhubungan dengan keenam indria kita dan obyek sasarannya. Anda harus mengerti dengan sebaik-baiknya, bahwa Kesadaran tidak dapat mengenal suatu obyek. Ia hanya merupakan kesadaran yaitu kesadaran akan adanya satu obyek. Kalau mata kita mendapat kontak dengan warna biru misalnya, kesadaran mata kita bangkit dan kita sadar tentang adanya warna, tetapi kita belum mengenalnya sebagai warna biru. Pada tingkatan ini kita belum mengenal apa-apa. Tingkat Pencerapan yang dapat mengenal warna itu sebagai warna biru. Kesadaran mata hanya berarti bahwa satu bentuk atau benda telah terlihat. Tetapi, melihat belum berarti mengenalnya. Begitu juga halnya dengan kesadaran indria-indria lainnya. Di sini ingin diingatkan sekali lagi, bahwa menurut Buddha Dhamma tidak ada sesuatu zat yang kekal abadi yang dapat dianggap sebagai “aku”, “jiwa” atau “ego” sebagai lawan dari badan jasmani, dan kesadaran viññana janganlah sekali-kali dianggap sebagai “jiwa” yang kekal abadi sebagai lawan dari badan jasmani. Hal ini perlu ditekankan lagi secara khusus karena satu kesalah pahaman sejak zaman purba hingga kini masih saja berlangsung, yang menganggap kesadaran sebagai semacam “jiwa” dan “ego” yang bersifat kekal abadi. Salah seorang siswa Sang Buddha bernama Sati bersikeras mengatakan bahwa Sang Guru pernah berkata “Kesadaran yang samalah yang keluar dan masuk dan berkeliling.” Ketika mendengar ini Sang Buddha lalu bertanya kepada Sati apa yang dimaksudkan dengan “kesadaran” itu? Jawaban Sati adalah klasik “Sesuatu yang melakukan, yang merasakan dan yang mengalami akibat dari pada perbuatan baik dan buruk yang dilakukannya, di dunia ini dan alam sana.” “Orang bodoh”, jawab Sang Guru, “dari siapakah pernah engkau dengar Aku menerangkan ajaran seperti yang engkau katakan itu? Berulang kali Aku menerangkan bahwa kesadaran itu timbul karena satu kondisi; tak ada kesadaran yang timbul tanpa kondisi. Kesadaran diberi nama dari kondisi yang menimbulkannya; oleh karena ada mata dan benda-benda yang terlihat oleh mata, maka timbullah kesadaran yang diberi nama kesadaran-mata; oleh karena ada telinga dan suara yang didengarnya, maka timbul kesadaran yang diberi nama kesadaran-telinga; Sesudah itu, Sang Buddha menerangkan lebih lanjut dengan mengambil perumpamaan. Api diberi nama menurut benda yang membuatnya menyala; misalnya, api yang menyala dari kayu diberi nama api-kayu, api yang menyala dari jerami diberi nama api-jerami. Begitu pula kesadaran diberi nama menurut kondisi yang membuat ia timbul Majjhima Nikaya, Maha Tanhasankhaya Sutta. Buddhagosa, seorang komentator terkenal, pernah menerangkan hal ini sebagai berikut “… api yang menyala dari kayu hanya menyala selama masih ada persediaan kayu dan padam kenbali kalau persediaan kayu itu habis terbakar, karena kondisinya sudah berubah. Namun api itu tidak melompat ke jerami, dll. … dan menjadi api jerami dst…. Begitu juga dengan kesadaran yang timbul dengan adanya mata dan benda-benda yang terlihat; kesadaran ini berlangsung selama kondisi dari adanya sebuah mata, benda-benda yang terlihat, cuaca terang dan perhatian ini tidak melompat ke telinga, dll. … dan menjadi kesadaran telinga dst. … Sang Buddha selanjutnya menerangkan bahwa kesadaran memerlukan benda, perasaan, pencerapan dan bentuk-bentuk pikiran, dan tidak dapat timbul tanpa adanya mereka itu. Beliau berkata “Kesadaran dapat berlangsung dengan mempunyai benda sebagai perantara rupapayang, benda sebagai obyek ruparammanang, benda sebagai pembantu rupapatitthang dan dalam mencari kesenangan ia tumbuh, bertambah dan berkembang; atau kesadaran dapat berlangsung dengan mempunyai perasaan sebagai perantara … atau pencerapan sebagai perantara … atau bentuk-bentuk pikiran sebagai perantara, bentuk-bentuk pikiran sebagai obyek, bentuk-bentuk pikiran sebagai pembantu dan dalam mencari kesenangan ia tumbuh, bertambah dan berkembang. Andaikata ada orang yang berkata aku akan memperlihatkan kepadamu datangnya, jalannya, lenyapnya, timbulnya, bertambahnya atau berkembangnya kesadaran terlepas dari benda, perasaan, pencerapan dan bentuk-bentuk pikiran, maka orang itu telah berkata tentang sesuatu yang tidak ada.” Secara singkat inilah yang dimaksud dengan Lima Kelompok Kegemaran Pañcakkhanda. Lalu yang dinamakan makhluk, orang atau “aku” hanyalah merupakan sebuah nama atau sebuah sebutan belaka yang kita berikan kepada Lima Kelompok Kegemaran tersebut. Mereka semua tidak kekal dan selalu berubah-ubah. Segala sesuatu yang tidak kekal adalah dukkha Yad aniccang tang dukkhang. Inilah makna sebenarnya dari kata-kata Sang Buddha “Secara singkat, Lima Kelompok Kegemaran itu adalah dukkha.” Mereka tidak pernah sama pada dua saat yang berlainan. Di sini A tidak sama dengan A. Mereka merupakan proses terus menerus dari suatu keadaan yang setiap saat timbul dan lenyap kembali. “O brahmana, kesadaran itu seperti juga sebuah sungai di gunung yang mengalir jauh dan cepat dengan membawa serta segala sesuatu yang dijumpai di perjalanannya; tak sekejap, sesaat atau sedetik pun ia berhenti mengalir, tetapi ia terus menerus mengalir tak henti-hentinya. Begitu pula brahmana, penghidupan seorang manusia dapat diumpamakan sebagai sebuah sungai di gunung.” Sang Buddha pernah berkata kepada Ratthapala “Dunia ini berada dalam proses bergerak terus menerus dan oleh karena itu tidak kekal.” Satu materi lenyap dan ini menciptakan kondisi untuk timbulnya materi yang berikutnya dan begitu seterusnya dalam satu rangkaian sebab dan akibat. Tak terdapat satu bagian pun yang kekal di dalamnya. Tak ada sesuatu di belakangnya yang dapat disebut sebagai satu Atta Pali atau Atman Skrt yang kekal abadi, satu pribadi atau yang disebut sebagai “aku”. Saya kira semua orang setuju, bahwa baik benda, perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran atau kesadaran pada hakekatnya tak dapat disebut sebagai “aku”. Tetapi kalau Lima Kelompok Kegemaran ini, yang keadaannya saling bergantungan, bekerja sama dalam satu kombinasi sebagi satu mesin physio-psychologik, maka kita akan mendapat ide tentang adanya sang “aku” itu. Tetapi, ini ide palsu, satu bentuk pikiran yang menjadi bagian dari salah satu dari 52 buah bentuk pikiran dari Kelompok Kegemaran keempat yang baru saja kita perbincangkan, yaitu bentuk pikiran tentang adanya ide dari sang “aku” sakkaya-ditthi; dari sat = makhluk dan kaya = tubuh. Lima Kelompok Kegemaran ini secara keseluruhan, yang secara populer disebut sebagai “makhluk”, juga merupakan dukkha sankharadukkha. Sebenarnya tak ada “makhluk” atau “aku” lain yang berdiri di belakang Lima Kelompok Kegemaran itu yang mengalami penderitaan. Dalam hubungan ini Buddhagosa pernah berkata “Hanya penderitaan yang ada, namun “tak dapat dijumpai si penderita; “Perbuatan yang ada, tetapi “tak ada si pembuat.” Vism. PTS, hal. 513 Tak adalah penggerak yang tak bergerak di belakang pergerakan itu. Yang ada hanya pergerakan itu sendiri. Kuranglah tepat kiranya untuk mengatakan bahwa penghidupan ini bergerak, karena penghidupan itu sendiri merupakan pergerakan. Penghidupan dan pergerakan bukanlah dua hal yang berbeda. Dengan perkataan lain, tak terdapat si pemikir di belakang pikiran. Pikiran itu sendirilah yang juga merupakan si pemikir. Kalau kita menyingkirkan pikiran, maka si pemikir tak akan dapat dijumpai. Dalam hal ini paham Buddhis bertentangan sama sekali dengan paham kaum Cartesian yang berbunyi “cogito ergo sum” yang berarti “aku berpikir, dan karena itu aku ada.” Sekarang mungkin timbul pertanyaan, apakah penghidupan ada permulaannya? Menurut Buddha Dhamma, awal dari proses penghidupan satu makhluk tak dapat terpikir. Sang Buddha pernah bersabda “O bhikkhu, roda tumimbal-lahir samsara tak mempunyai akhir yang dapat dilihat. Sedangkan awal dari penghidupan makhluk-makhluk yang sekarang kelihatan berkeliaran ke sana dan ke mari, diselubungi oleh ketidaktahuan avijja, diikat erat-erat oleh belenggu keinginan yang tak habis-habisnya tanha, tidak dapat diketahui dengan jelas.” S II, hal. 178/9; III hal. 149, 151. Selanjutnya mengenai ketidaktahuan avijja, yang merupakan sebab utama dari tumimbal-lahir yang tak habis-habisnya, Sang Buddha bersabda “Awal dari avijja tidak dapat diketahui dengan jelas. Ini harus diartikan bahwa kita tidak dapat menentukan dengan tepat bahwa di luar titik tertentu tidak lagi terdapat avijja.” Dengan demikian, tidaklah mungkin untuk mengatakan bahwa tidak terdapat lagi kehidupan di luar titik tertentu. Inilah secara singkat makna dari Kesunyataan Mulia tentang Dukkha. Sangat penting sekali untuk mengerti Kesunyataan Mulia Pertama ini dengan baik, sebab Sang Buddha juga pernah bersabda “Ia yang telah melihat dukkha akan dapat melihat pula sumbernya dukkha, dapat melihat pula terhentinya dukkha dan dapat melihat pula jalan yang menuju ke terhentinya dukkha.” Harap jangan disalahartikan, bahwa kehidupan seorang Buddhis itu murung dan penuh kesedihan. Sebaliknya, seorang Buddhis sejati adalah orang yang paling bahagia. Ia tak mempunyai rasa takut atau ketegangan. Ia selalu sabar dan gembira dan ia tak terpengaruh atau merasa kesal oleh adanya suatu perubahan atau bencana karena ia melihat benda-benda menurut kodratnya yang sebenarnya atau sewajarnya. Sang Buddha sendiri tak pernah kelihatan murung atau kesal. Orang yang pernah mengenal Sang Buddha mengatakan bahwa Beliau adalah orang yang selalu tersenyum mihitapubbangama. Dalam lukisan atau pahatan Sang Buddha selalu digambarkan dalam keadaan bahagia, tersenyum, puas dan penuh welas asih. Tak sedikit pun penderitaan atau kemasygulan yang dapat terlihat. Kebudayaan dan arsitektur Buddhis dengan vihara-viharanya belum pernah memberi kesan tentang kemurungan atau kesedihan, tetapi selalu memberikan suasana yang tenang, khidmat, mulia dan agung. Meskipun hidup ini penuh dengan penderitaan, seorang Buddhis seharusnya jangan bersikap murung, atau bersikap marah atau tak sabar terhadapnya. Salah satu sifat buruk, menurut paham Buddhis, adalah patigha. Patigha dapat diartikan sebagai “keinginan tidak baik” ill-will terhadap makhluk hidup, terhadap penderitaan dan terhadap benda-benda yang ada hubungannya dengan penderitaan. Fungsinya ialah menciptakan dasar bagi satu keadaan yang tidak bahagia dan tingkah laku yang buruk. Oleh karena itu salah sekali bertindak tidak sabar terhadap penderitaan. Dengan bertindak tidak sabar dan marah-marah kita tidak dapat menyingkirkan penderitaan. Bahkan, ia akan menambah lebih banyak kesulitan lagi, memperbesar, dan merangsang keadaan yang memang sudah tidak menyenangkan itu. Yang perlu kita lakukan bukanlah marah-marah atau tidak sabar, melainkan berusaha untuk mengerti akan seluk beluk penderitaan itu, bagaimana ia timbul dan bagaimana menyingkirkannya. Selanjutnya, kita harus bekerja untuk mencapai tujuan itu dengan penuh kesabaran, kebijaksanaan, keyakinan dan kemauan keras. Kita mengenal dua buah kitab suci Buddhis yang berjudul Theragatha dan Therigatha. Kitab-kitab tersebut berisikan ucapan-ucapan penuh kebahagiaan dari siswa-siswa Sang Buddha, baik pria maupun wanita, yang telah berhasil memperoleh ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan dengan melaksanakan ajaran Sang Buddha. Baginda Raja Kosala pada suatu hari memberitahukan Sang Buddha bahwa berlainan dengan pengikut agama-agama lain yang air mukanya kelihatan liar, beringas, pucat, kurus kering dan tidak bercahaya, maka siswa-siswa Sang Buddha kelihatannya gembira dan bercahaya, penuh dengan kebahagiaan hidup, menikmati hidup suci, indria-indrianya terkekang, bebas dari ketegangan, sabar, tenang dan periang. Raja itu menganggap bahwa keadaan yang sehat ini diperoleh karena para bhikkhu itu benar-benar dapat menyelami dan melaksanakan ajaran Sang Tathagata Buddha. Buddha Dhamma menentang pikiran yang murung, sedih dan penuh dengan perasaan bersalah, yang dianggap sebagai penghalang untuk menembus Kesunyataan dan memperoleh Penerangan Agung. Sebaliknya, kegiuran piti termasuk salah satu dari tujuh Bojjhanga yang dengan mutlak harus dikembangkan untuk mencapai Penerangan Agung Nibbana. 1. Anathapindika Menjadi Siswa Buddha Anathapindika adalah penyokong utama Buddha. Anathapindika berasal dari kata ’pinda” yang berarti penderma, dan “anatha” yang berarti kepada yang tidak mampu. Anathapindika merupakan panggilan kehormatan Sudatta, seorang perumah tangga dari Savatthi. Pertemuan pertama Anathapindika dan Buddha terjadi setelah vassa ketiga sejak Buddha mencapai Pencerahan Sempurna. Pada awalnya, Buddha belum menetapkan peraturan apa pun mengenai tempat berdiam bagi para bhikkhu. Para bhikkhu tinggal di mana pun, antara lain di bawah pohon, di bawah bebatuan yang menonjol, di jurang, di gua, di kuburan, dan di ruang terbuka. Ketika Anathapindika melihat cara hidup para bhikkhu, dengan izin dari Buddha, Anathapindika mendirikan 60 buah tempat tinggal bagi para bhikkhu. Tempat itu digunakan untuk penyebaran Dharma dan sebagi pusat pelatihan bagi Sangha. Buddha membimbing Anathapindika dengan menjelaskan Empat Kebenaran Mulia. Dengan itu, mata kebenaran yang tanpa noda, bersih dari debu dhammacakkhu terbuka bagi Anathapindika “Apa pun yang memiliki sifat alami timbul, semua juga memiliki sifat alami tenggelam.“ Akhirnya, Anathapindika memahami kebenaran Dharma, mengatasi semua keraguan, dan tanpa goyah; mantap dalam pikiran, ia sekarang mandiri dalam Ajaran Sang Guru. Ia telah merealisasi jalan dan buah pemasuk-arus sotapatti. Sumber Gambar Anathapindika membeli taman milik Pangeran Jeta dengan menutupi luas tanah menggunakan koin emas. Ayo, Mengamati! Tahukah kamu, peristiwa apakah yang terjadi seperti pada Gambar Ayo, Mengamati! Amati Gambar Tahukah kamu, siapakah Anathapindika itu? Bagaimana ia bertemu dengan Buddha? Bagaimana peran dia terhadap agama Buddha? Sumber Anathapindika meminta izin kepada Buddha untuk membangun sebuah vihara. Akhirnya ditemukan lokasi perbukitan yang mengelilingi kota. Tempat itu adalah Hutan Jeta, milik Pangeran Jeta, putra Raja Pasenadi. Anathapindika membeli taman itu seharga delapan belas juta koin emas dengan cara menutupi tanah yang dibeli. Vihara Jetavana yang dipersembahkan oleh Anathapindika adalah sebuah tempat tinggal yang dipuji oleh Buddha sebagai hadiah utama untuk Sangha. Anathapindika menghabiskan biaya sebesar lima puluh empat juta koin emas untuk membangun Vihara Jetavana yang dipersembahkan untuk Sangha. Oleh karena itu, Buddha menyatakan bahwa Anathapindika sebagai penyokong utama Sangha. Setelah membangun Vihara Jetavana, Anathapindika terus tekun menyokong Sangha. Ia menyediakan segala keperluan Sangha. Setiap pagi ia mengirim nasi susu, dan setiap malam ia menyediakan semua keperluan jubah, mangkuk pindapata, dan obat-obatan. Semua perbaikan dan perawatan di Jetavana dilakukan oleh pelayannya. Beberapa ratus bhikkhu datang setiap hari ke rumahnya yang merupakan bangunan bertingkat tujuh, untuk menerima santap siang. Setiap hari saat santap siang, rumahnya penuh dengan jubah kuning dan suasana suci. Para perumah-tangga yang penuh pengabdian di kota, seperti Anathapindika dan Visakha, menyambut para bhikkhu dan menganggap mereka sebagai teman spiritual yang hidup demi kesejahteraan dan manfaat semua makhluk. Buddha mengucapkan sebuah syair kepada raja untuk diingat Sebuah masakan mungkin tawar atau lezat, Makanan mungkin sedikit atau banyak, Namun, bila diberikan oleh tangan yang bersahabat, Maka menjadi santapan yang nikmat. Jataka. 346 Sumber Gambar Anathapindika mengundang Buddha dan para bhikkhu ke rumahnya. Ayo, Mengamati! Tahukah kamu siapa Anathapindika? Apa perannya dalam mendukung Buddha? Teladan apa yang dapat kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari? Ketika mendengar khotbah dari Buddha, ia langsung mencapai tingkat kesucian kedua, yakni Sakadagami. Ia tidak menikah. Ketika melihat kebahagiaan kedua kakaknya, ia menjadi sedih dan kesepian sehingga membuat ia menjadi makin kurus, tidak mau makan apa pun. Akhirnya, Sumana meninggal karena kelaparan dan terlahir kembali di surga Tusita. Ayo, kumpulkan data tentang anggota keluarga Anathapindika, lalu tuliskan ke dalam kolom-kolom sebagai berikut! 3. Anathapindika Wafat Wafatnya Anathapindika dijelaskan dalam Anathapindikovada Sutta, Nasihat kepada Anathapindika MN 143. Anathapindika jatuh sakit untuk ketiga kalinya dengan rasa sakit yang amat memburuk. Sekali lagi ia memohon bantuan Ananda dan Sariputta. Ketika Sariputta melihatnya, ia tahu bahwa Anathapindika sudah mendekati ajalnya dan memberi uraian Dharma. Ketika mendengarkan khotbah dari Sariputta, air mata bercucuran dari mata Anathapindika. Ananda mendekatinya dengan kasih-sayang dan bertanya apakah ia sedang sedih. Namun Anathapindika menjawab “Aku tidak bersedih, wahai Ananda yang mulia. Aku telah lama melayani Buddha dan para bhikkhu yang sempurna dalam pencapaian spiritual, namun belum pernah kudengar khotbah yang begitu mendalam.” Anathapindika Punnalakkhana Subhada Besar P Subhada Kecil P Sumana P Kala L Ayo, Mengeksplorasi 2. Silsilah Keluarga Anathapindika Anathapindika menikah dengan Punnalakkhana. Punnalakkhana berarti “seorang dengan tanda kebajikan”. Anathapindika memiliki empat orang anak, tiga putri dan seorang putra. Dua putrinya, Subhadda Besar dan Subhadda Kecil. Mereka mendalami ajaran Buddha seperti ayahnya dan mencapai kesucian Sotapanna. Namun, putrinya yang termuda, Sumana, bahkan melampaui semua orang di rumah dengan kebijaksanaannya yang mendalam. Setelah menasihati Anathapindika dengan cara demikian, Sariputta dan Ananda pergi. Tak lama kemudian, Anathapindika meninggal dan terlahir di surga Tusita. Putri termudanya telah meninggal terlebih dahulu. Namun, karena begitu besar pengabdiannya kepada Buddha dan Sangha, ia muncul di Vihara Jetavana sebagai dewa muda, yang memenuhi seluruh daerah itu dengan cahaya surgawi. Saat itu juga, Ananda berkata “Bhante, dewa muda itu pastilah Anathapindika. Karena Anathapindika si perumah tangga memiliki kepercayaan penuh terhadap Sariputta.” Buddha membenarkan Ananda bahwa dewa muda itu dulunya memang Anathapindika” SN 220; MN 143. Tugasku Setelah kamu memperlajari kisah teladan Anathapindika, temukan nilai-nilai luhur darinya yang dapat kamu teladani dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari! 1. Buatlah rangkuman kisah kehidupan Anathapindika! 2. Bacakan di depan kelas! 3. Simpan ke dalam dokumen portotofolio yang kamu miliki! Portofolio Tugas 1. Mengapa Anathapindika merupakan salah satu penyokong Buddha? 2. Bagaimana peran Anathapindika dalam menyokong Buddha? 3. Jelaskan tentang keluarga Anathapindika! 4. Anathapindika jatuh sakit untuk ketiga kalinya. Mengapa ia memohon bantuan Ananda dan Sariputta? 5. Bagaimana proses pencapaian kesucian Anathapindika? Ayo, Uji Kompetensi Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Terjemahan dariDhammacakkappavattana Sutta Indonesia Khotbah Mengenai Pemutaran Roda Dhamma Inggris Setting in Move the Wheel of the Dharma, Promulgation of the Law Sutra, The First Turning of the Bicycle, The Four Noble Truths Sutra Pali Dhammacakkappavattana Sutta Sanskerta Dharmacakrapravartana Sūtra धर्मचक्रप्रवर्तनसूत्र Tionghoa 轉法輪經, 转法轮经 Jepang 転法輪経 Korea 초전법륜경 Myanmar Myanmar Khmer ធម្មចក្កប្បវត្តនសូត្រThormmachakkappavorttanak Sot Daftar Istilah Buddhis lihat bicara sunting Dhammacakkappavattana Sutta Pali; Sanskerta Dharmacakra Pravartana Sūtra; bahasa Indonesia Khotbah Mengenai Pemutaran Roda Dhamma adalah sebuah sutta berisi khotbah pertama yang dibabarkan oleh Buddha Gautama setelah mencapai Pencerahan Sempurna kepada lima orang petapa di Taman Rusa di Isipatana pada hari purnama bulan Āsāḷha, tahun 588 SM. Kelima petapa tersebut adalah Kondañña, Vappa, Bhaddiya, Mahānāma, dan Assaji, yang kemudian dikenal sebagai lima siswa pertama Buddha.[1] Setelah mendengarkan khotbah ini, kelima petapa tersebut Latar belakang [sunting sunting sumber] Lihat pula [sunting sunting sumber] Referensi [sunting sunting sumber] Sumber [sunting sunting sumber] Sumber cetakan [sunting sunting sumber] Bacaan lebih lanjut [sunting sunting sumber] Pranala luar [sunting sunting sumber] Jelaskan Tentang Khotbah Ketiga Yang Diberikan Oleh Buddha Latar belakang [sunting sunting sumber] Pada minggu ketujuh setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pada hari ke-50 pagi hari, setelah berpuasa selama tujuh minggu, dua orang pedagang, Tapussa dan Bhallika lewat di dekat tempat Sang Buddha sedang duduk bermeditasi di bawah pohon Rajayatana. Mereka menghampiri Buddha dan mempersembahkan makanan dari beras dan madu. Setelah Tapussa dan Bhallika melanjutkan perjalanannya, Buddha merenung apakah Dhamma yang ditemukannya akan diajarkan kepada khalayak ramai atau tidak, sebab Dhamma itu dalam sekali dan sulit untuk dimengerti sehingga timbul perasaan enggan dalam diri Buddha untuk mengajar Dhamma.[2] Kesulitan umat manusia untuk memahami Dhamma yang sudah dicapai oleh Buddha dinyatakannya dalam syair berikut[3] Susah payah kupahami Dhamma Tidak perlu membabarkan sekarang Yang sulit dipahami mereka yang serakah dan benci Orang diselimuti kegelapan takkan mengerti Dhamma Dhamma menentang arus sulit dimengerti Dhamma sangat dalam, halus, dan sukar dirasakan Setelah itu, Buddha memutuskan untuk tidak membabarkan Dhamma yang ditemukannya karena menyadari Dhamma ini sangat sulit dimengerti manusia yang masih diliputi kegelapan batin. Sewaktu Buddha merenungkan demikian, pikirannya condong pada hidup nyaman, bukan mengajar Dhamma. Brahma Sahampati yang membaca pikiran Buddha, lalu berpikir, “Aduh, dunia ini sudah selesai! Aduh, dunia ini segera musnah, karena Sang Tathāgata, Sang Arahanta, Yang telah mencapai Penerangan Sempurna, condong pada hidup nyaman, bukan mengajar Dhamma.”[three] Kemudian Brahma Sahampati, turun dari Brahmaloka dan berdiri di hadapan Buddha. Setelah memberi penghormatan kepada Buddha, Brahma Sahampati berkata kepadanya, “Semoga Sang Tathagata, demi belas kasih kepada para manusia, berkenan mengajar Dhamma. Dalam dunia ini terdapat juga orang-orang yang sedikit dihinggapi kekotoran batin dan mudah mengerti Dhamma yang akan diajarkan.” Dengan mata dewa, Buddha dapat mengetahui bahwa memang ada orang-orang yang tidak lagi terikat kepada hal-hal duniawi dan mudah mengerti Dhamma. Karena itu Buddha mengambil ketetapan hati untuk mengajar Dhamma demi belas kasihnya kepada umat manusia.[ii] Buddha menyatakan persetujuannya dengan berkata, “Pintu menuju tiada kematian, Nibbāna, sekarang telah terbuka. Akan kubabarkan Dhamma kepada semua makhluk agar mereka yang memiliki keyakinan dan pendengaran yang baik bisa sama-sama memetik manfaatnya.”[4] Lihat pula [sunting sunting sumber] Dharmacakra Pencerahan Empat Kebenaran Mulia Jalan Tengah Jalan Utama Berunsur Delapan Sarnath Taṇhā Tiga Corak Umum Referensi [sunting sunting sumber] ^ “Pemutaran Roda Dhamma”. Diakses tanggal 15 Juni 2020. ^ a b Maha Pandita Sumedha Widyadharma 1999. “Riwayat Hidup Buddha Gotama – Bab Two – Pelepasan Agung”. Samaggi Phala. Diakses tanggal 16 Juni 2020. ^ a b Karsan, Sulan 2016. “Pemutaran Roda Dhamma”. Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti PDF. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. hlm. nineteen. ISBN 978-602-282-944-vii. Diarsipkan dari versi asli PDF tanggal 2020-02-fifteen. Diakses tanggal xvi Juni 2020. ^ Ashin Kusaladhamma Maret 2015. “Pemutaran Roda Dhamma”. Kronologi Hidup Buddha. Yayasan Satipaṭṭhāna Indonesia dan Ehipassiko Foundation. hlm. 167-176. Diakses tanggal 21 Juli 2020. Sumber [sunting sunting sumber] Sumber cetakan [sunting sunting sumber] Kanon Pali Bhikkhu Bodhi penerjemah 2000, The Continued Discourses of the Buddha A New Translation of the Samyutta Nikaya, Boston Wisdom Publications, ISBN 0-86171-331-one Bhikkhu Nanamoli penerjemah 1995, The Heart Length Discourses of the Buddha A New Translation of the Majjhima Nikaya, Boston Wisdom Publications, ISBN 0-86171-072-X Guru Buddhis Anandajoti Bhikkhu trans. 2010. The Earliest Recorded Discourses of the Buddha from Lalitavistara, Mahākhandhaka & Mahāvastu. Kuala Lumpur Sukhi Hotu. Likewise available on-line. Sumedho, Ajahn 2002, The Iv Noble Truths, Amaravati Publications Sucitto, Ajahn 2010, Turning the Wheel of Truth Commentary on the Buddha’s First Instruction, Shambhala Dhamma, Ven. Dr. Rewata 1997, The First Discourse of the Buddha, Wisdom, ISBN 0-86171-104-one Geshe Tashi Tsering 2005, The Four Noble Truths The Foundation of Buddhist Idea, Volume I, Wisdom, Kindle Edition Gethin, Rupert 1998, Foundations of Buddhism, Oxford Academy Press Goldstein, Joseph 2002, Ane Dharma The Emerging Western Buddhism, HarperCollins Thich Nhat Hanh 1991, Old Path White Clouds, Parallax Press Thich Nhat Hanh 1999, The Centre of the Buddha’s Teaching, Three River Printing Thich Nhat Hanh 2012, Path of Compassion Stories from the Buddha’s Life, Parallax Press Rahula, Walpola 2007, What the Buddha Taught, Grove Printing, Kindle Edition Sekunder Anderson, Ballad 2001, Pain and Its Ending The Four Noble Truths in the Theravada Buddhist Catechism, Motilall Banarsidas Bronkhorst, Johannes 1993, The Two Traditions of Meditation in Ancient India, Motilal Banarsidass Publ. Cohen, Robert S. 2006, Across Enlightenment Buddhism, Religion, Modernity, Routledge Cousins, 2001, “Review of “Pain and its Ending The Four Noble Truths in the Theravada Buddhist Canon” PDF, Journal of Buddhist Ethics, eight 36–41 Davidson, Ronald Yard. 2003, Indian Esoteric Buddhism, Columbia University Press, ISBN 0-231-12618-ii Gethin, Rupert 1998, Foundations of Buddhism, Oxford University Printing Gombrich, Richard 1988, repr. 2002. Theravada Buddhism A Social History from Aboriginal Benares to Mod Colombo. London Routledge. ISBN 0-415-07585-8. Gombrich, Richard F. 1997, How Buddhism Began The Conditioned Genesis of the Early Teachings, Routledge, ISBN 978-1-134-19639-5 Harvey, Peter 1990, Introduction to Buddhism, Cambridge University Printing Lopez Jr, Donald S 1995, Buddhism in Practice PDF, Princeton University Press, ISBN 0-691-04442-2 Norman, 1982. “The Four Noble Truths a problem of Pali syntax” in Hercus et al. ed., Indological and Buddhist Studies Volume in Honour of Professor west. de Jong on his Sixtieth Birthday. Canberra, pp. 377–91. Norman, 2003, “The Four Noble Truths”, Norman Collected Papers Ii PDF Schmithausen, Lambert 1981, On some Aspects of Descriptions or Theories of Liberating Insight’ and Enlightenment’ in Early Buddhism”. In Studien zum Jainismus und Buddhismus Gedenkschrift für Ludwig Alsdorf, hrsg. von Klaus Bruhn und Albrecht Wezler, Wiesbaden Sharf, Robert H. 1995, “Buddhist Modernism and the Rhetoric of Meditative Feel” PDF, NUMEN, 42, diarsipkan dari versi asli PDF tanggal 2019-04-12, diakses tanggal 2017-05-06 Sharf, Robert H. 2000, “The Rhetoric of Experience and the Study of Religion” PDF, Journal of Consciousness Studies, 7 eleven-12 267–87, diarsipkan dari versi asli PDF tanggal 2013-05-xiii, diakses tanggal 2017-05-06 Vetter, Tilmann 1988, The Ideas and Meditative Practices of Early Buddhism, BRILL Warder, 1999, Indian Buddhism, Delhi Bacaan lebih lanjut [sunting sunting sumber] Keilmuan Anderson, Carol 2001, Pain and Its Ending The Four Noble Truths in the Theravada Buddhist Canon, Motilall Banarsidas Analayo, Five 2012. The Chinese Parallels to the Dhammacakkappavattana-sutta ane, Journal of the Oxford Centre for Buddhist Studies 3, 12-46 Analayo, Five 2013. The Chinese Parallels to the Dhammacakkappavattana-sutta ii, Periodical of the Oxford Centre for Buddhist Studies 5, nine-41 Komentar dalam bahasa Inggris Ajahn Sucitto 2010, Turning the Wheel of Truth Commentary on the Buddha’southward First Instruction, Shambhala Bhikkhu Pesala, An Exposition of the Dhammacakka Sutta Mahasi Sayadaw 1996–2012, Discourse on the Wheel of Dharma Ven. Dr. Rewata Dhamma 1997, The First Soapbox of the Buddha, Wisdom, ISBN 0-86171-104-1. Pranala luar [sunting sunting sumber] Wikisource memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini Saṃyutta Nikāya 56. Kelompok Khotbah tentang Kebenaran-kebenaran 11. Memutar Roda Dhamma terjemahan Dhammacakkappavattana Sutta dalam bahasa Indonesia oleh Indra Anggara Saṃyutta Nikāya Dhammacakkappavattana Sutta Setting the Wheel of Dhamma in Move diterjemahkan dari bahasa Pali oleh Bhikkhu Thanissaro Bhikkhu dengan pranala ke terjemahan alternatif. Versi terjemahan Saṃyukta Āgama dalam bahasa Inggris Dhammacakkappavattana Sutta baca dengan keras buku berbicara oleh Guy Armstrong Veris Pāli Romanisasi dengan terjemahan bahasa Inggris Analisis semantik kata demi kata dengan terjemahan di samping Sebuah Eksposisi dari Dhammacakka Sutta oleh Bhikkhu Pesala Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Agama keyakinan, keimanan boleh berbeda-beda. Namun, pada dasarnya semua agama mengajarkan kebajikan dan perdamaian. Hidup sederhana dan selalu berpikir mulia pun menjadi tujuan hidup manusia. Ikhtiar menjalankan kehidupan bermakna dan bermanfaat bagi agamanya juga keyakinan orang lain pun terus disebarluskan oleh para pemuka agamanya. Hingga akhir hayatnya pula ajaran kebajikan itu terus dipelajari, dihayati dan diperaktikan dalam kehidupan sehari-hari. Ibarat Muhammad SAW menjelang tutup usianya masih memberikan ajaran kebajikan dan melarang Haji Wada Khotbat Terakhir menutup risalah perjuangan sekaligus penegakan Keesaan Tuhan berakhir. Dalam kehidupan Sang Buddha, perilaku yang hampir sama juga terjadi. Khotbah Terakhir Hyang Buddha di Hutan Sala milik Suku Malla, di antara Pohon Sala besar di dekat Kusinara, terangkum dalam naskah Yunus H dengan memuat 16 pesan, diantaranya Jadilah perlindungan bagi dirimu sendiri. Janganlah menyandarkan nasibmu pada makhluk lain. Jadilah pelita bagi dirimu sendiri. Memegang teguh Dharma sebagai pelita dan perlindungan. Jangan mencari perlindungan lain. Pasal 1 Sang Buddha membabarkan Dharma 45 tahun lamanya. Selalu hadir pada setiap saat, tanpa mengenal letih dan lelah. Dengan pancaran penuh cinta kasih dan welas asih secara terus berjalan kali melalui tiupan angin dan debu ke seluruh pelosok negeri. Jelang Hari Raya Waisak 2553 BE/20009 yang jatuh pada tanggal 9 Mei 2009. Sejatinya, khotbah terakhir kita renungkan sekaligus sebarluaskan pesan suci ini. Semoga. [Ibn Ghifarie]IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama Lihat Filsafat Selengkapnya Khotbah ini Dhammacakkappavattana Sutta, atau Roda Dhamma seperti umumnya disebut, – sesuai nama dalam Pali, dapat dianggap sebagai jawaban pertanyaan atas pencarian. Pada bagian pertama Sang Buddha menunjukkan cara-cara praktik yang harus dihindari oleh para bhikkhu atau mereka yang meninggalkan keduniawian. Ini adalah kedua ekstrim pemuasan indria dan penyiksaan-diri. Keduanya harus dihindari. Ia menunjukkan jalan di antara kedua ekstrim ini, latihan Jalan Tengah, yang terdiri dan delapan faktor, yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang terdiri dari Pandangan Benar, Kehendak Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar dan Meditasi Benar. Pada bagian ke dua Beliau mengajarkan Dhamma yang dengannya Beliau menjadi tercerahkan kepada Kelima Petapa . Ini adalah akibat dari menghindari kedua ekstrim dan menapak apa yang disebut Jalan Tengah. Dhamma itu disebut Empat Kebenaran Mulia. Ini menyiratkan Kebenaran-kebenaran dari orang-orang mulia atau kebenaran-kebenaran yang memuliakan seseorang. Empat Kebenaran itu adalah Kebenaran Mulia Pertama tentang Dukkha, biasanya diterjemahkan sebagai Penderitaan. Sewaktu menjelaskan manifestasinya, Sang Buddha menunjukkan fenomena kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratapan, penyakit, dukacita, keputus-asaan, berkumpul dengan yang tidak menyenangkan, berpisah dengan yang menyenangkan atau yang dicintai dan akhirnya, sebagai suatu sintesa, tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Rangkumannya, Kelima kelompok usnur kehidupan yang dilekati adalah tempat bagi penderitaan. Kebenaran Mulia Ke dua tentang Dukkhasamudaya, Sebab Penderitaan. Sutta menunjuk pada Tanha atau keinginan sebagai penyebabnya. Ia menarik seseorang pada penjelmaan kembali atau kelahiran kembali, yang disertai dengan Nandi atau kenikmatan dan dengan keserakahan atau nafsu. Keinginan ini ada tiga jenis, yaitu, Keinginan untuk memiliki obyek-obyek kenikmatan indria, Keinginan untuk menjadi atau menjelma kembali dan Keinginan pada aspek negatif untuk tidak menelma kembali sebagai lawan dari jenis ke dua. Kebenaran Mulia Ke tiga tentang Dukkhanirodha, Padamnya penderitaan. Menurut Sutta, hal ini dimungkinkan dengan cara memuntahkan keinginan dengan tanpa meninggalkan bekas, berpisah dengan, melepaskan dan kebebasan dari Keinginan, tanpa kemelekatan yang tertinggal. Kebenaran Mulia ke empat tentang Dukkhanirodhagaminipatipada atau, singkatnya, Sang Jalan. Ini adalah apa yang disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan seperti yang telah disebutkan sebelumnya dan telah dijelaskan. Pada bagian ke tiga, Sang Buddha menjelaskan seperti apakah yang disebut Penerangan Sempurna. Ini menyiratkan munculnya pengetahuan secara spontan, atau berdasarkan intuisi, terhadap tiga putaran atau tahapan dari masing-masing dari Empat Kebenaran Mulia. Demikianlah Kebijaksanaan spontan atau Kebijaksanaan intuitif mengetahui bahwa 1. Sehubungan dengan Kebenaran Pertama ini adalah penderitaan, maka penderitaan ini harus diketahui, dan ini telah diketahui sekarang; 2. Sehubungan dengan Kebenaran Ke dua ini adalah sebab penderitaan, maka penyebab ini harus dilenyapkan, dan ini telah dilenyapkan sekarang. 3. Sehubungan dengan Kebenaran Ke tiga ini adalah padanya penderitaan, maka padamnya ini harus dicapai, dan ini telah dicapai sekarang. 4. Sehubungan dengan Kebenaran Ke empat ini adalah jalan menuju padamnya penderitaan, maka jalan ini harus dikembangkan, dan ini telah dikembangkan sempurna sekarang, yaitu, dalam segala hal. Ada istilah lain yang merujuk pada pengetahuan demikian, yang bersinonim dengan Pencerahan. Yaitu yang disebut nana atau Pandangan Terang dan melibatkan tiga putaran atau tingkat kehalusan atau kemendalaman yang disebut a Saccanana Pandangan Terang ke dalam sifat Kebenaran-kebenaran itu sendiri. Ini menyiratkan pengetahuan bagaimana ini adalah penderitaan, ini adalah Penyebabnya, ini adalah Padamnya dan ini adalah Jalan menuju ke sana. b Kiccanana Pandangan Terang ke dalam apa yang harus dilakukan pada masing-masingnya. Demikianlah penderitaan ini harus dikenali atau diketahui; Penyebabnya harus dilenyapkan atau dihilangkan; Padamnya harus dicapai; dan Sang Jalan menuju ke sana harus dikembangkan aatu disempurnakan. c Katanana Pandangan Terang ke dalam apa yang telah dilakukan sehubungan dengan masing-masing dari Empat Kebenaran. Menyiratkan pengetahuan bahwa segala penderitaan telah dikenali atau diketahui, tidak ada yang tersisa dari jenis ini. Sehubungan dengan Kebenaran ke dua, menyiratkan pengetahuan bahwa segala penyebab penderitaan telah dilenyapkan selamanya, tidak ada lagi yang tersisa untuk dilenyapkan lebih jauh lagi. Pada Kebenaran ke tiga, ini merujuk pada pengetahuan bahwa segala lenyapnya penderitaan telah dicapai, tidak ada lagi yang tersisa untuk dicapai lebih jauh lagi. Dan sehubungan dengan kebenaran ke empat, ini menunjukkan Pengetahuan bahwa segala Jalan yaitu, praktik yang menuju pada Padamnya telah diikuti, tidak ada lagi yang tersisa untuk dikembangkan lebih jauh lagi. Kelima petapa mendengarkan dengan saksama dan membuka hati mereka terhadap ajaran-Nya. Dan ketika khotbah itu tengah dibabarkan, pandangan tanpa noda dan murni terhadap Dhamma muncul dalam diri Kondañña. Ia memahami “Apa pun yang muncul, pasti akan berlalu yam kiñci samudayadhammam sabbam tam nirodhadhammam”. Demikianlah, ia menembus Empat Kebenaran Mulia dan mencapai tataran kesucian pertama Sotapatti pada akhir pembabaran itu. Karena itu, ia juga dikenal sebagai Aññata Kondañña – Kondañña yang mengetahui. Lalu ia memohon penahbisan lanjut upasampada kepada Sang Bhagava. Untuk itu, Sang Bhagava menahbiskannya dengan berkata “Mari, Bhikkhu! Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna. Jalanilah hidup suci demi berakhirnya penderitaan secara penuh”. Dengan demikian, ia menjadi bhikkhu pertama dalam Buddha Sasana melalui penahbisan Ehi Bhikkhu Upasampadã, “Penahbisan Mari Bhikkhu”. Setelah itu, tatkala ketiga petapa lainnya pergi menerima dana makanan, Sang Bhagava mengajarkan dan memberikan bimbingan Dhamma kepada Vappa dan Bhaddiya. Mereka akhirnya menjadi murni dan mencapai tataran kesucian Sotapatti. Dengan segera mereka memohon untuk ditahbiskan sebagai bhikkhu di bawah bimbingan¬Nya. Keesokan harinya, Mahanama dan Assaji juga menembus Dhamma dan menjadi Sotapanna. Tanpa jeda lagi mereka juga memohon penahbisan lanjut dari Sang Bhagava dan menjadi bhikkhu. Dengan demikian, kelima petapa itu menjadi lima siswa bhikkhu yang pertama, yang juga dikenal sebagai “Bhikkhu Pancavaggiya” Sejak saat itu, Persamuhan Bhikkhu Sangha Bhikkhu terbentuk. Setelah kelima bhikkhu itu menjadi Sotapanna, pada hari kelima Sang Bhagava membabarkan Anattalakkhana Sutta Khotbah Mengenai Tiadanya Inti Diri, yang dibabarkan sebagai tanya-jawab antara Sang Bhagava dan kelima siswa suci-Nya. Pada intinya, Ia menyatakan bahwa bentuk rüpa, perasaan vedanna, pencerapan sañña, bentukan batin sañkhara, dan kesadaran viññana adalah selalu berubah; dan apa yang selalu berubah tidaklah memuaskan dukkha. Kemudian, kesemuanya ini yang selalu berubah dan tidak memuaskan, harus dilihat sebagaimana adanya dengan pengertian benar “Ini bukan milikku n’etam mama; ini bukan aku n’eso’hamasmi; ini bukan diriku na m’eso atta”. Mendengar kata-kata-Nya, kelima bhikkhu tersebut menjadi gembira dan bahagia. Dan setelah Sang Bhagava membabarkan khotbah mi, pikiran mereka terbebas dan kotoran batin, tanpa kemelekatan; mereka mencapai tataran Arahat. pemutaran roda dhamma Setelah Sri Bhagavā Buddha mengutus keenam puluh siswa-Nya, Ia sendiri tetap melanjutkan pembabaran Dhamma tanpa kenal lelah selama empat puluh lima tahun. Selama dua puluh tahun pertama masa pembabaran Dhamma ini, Sri Bhagavā melewatkan masa berdiam musim hujan di berbagai tempat dan vihāra baca wihara[1]. Namun, selama dua puluh lima tahun terakhir, Ia melewatkan sebagian besar masa berdiam-Nya di Sāvatthī. Berikut adalah kronologi pembabaran Dhamma yang dilakukan oleh Sri Bhagavā selama empat puluh lima tahun dari tahun 588 Sebelum Era Umum SEU berdasarkan penanggalan tradisi, atau 528 SEU berdasarkan penanggalan sejarah, atau 45 Sebelum Era Buddhis SEB, hingga 544 SEU, atau 484 SEU, atau tahun 1 SEB. TAHUN PERTAMA 588 SEU/528 SEU/45 SEB Tempat kediaman musim hujanTaman Rusa Pali Migadāya, Sanskerta Mrigadava, di Isipatana dekat Bārānasī Benares; Varanasi, Kāsi. Peristiwa utamaBuddha membabarkan khotbah pertama Dhammacakkappavattana Sutta, Anattalakkhaṇa Sutta, dan Ādittapariyāya Sutta; mengalihyakinkan kelima petapa Pañcavaggiyā; mendirikan Persamuhan Saṅgha Bhikkhu dan Tiga Pernaungan Tisaraṇa; mengalihyakinkan Yasa dan kelima puluh empat sahabatnya; mengutus para duta Dhamma pertama; mengalihyakinkan ketiga puluh pangeran yang dikenal sebagai bhaddavaggiyā di hutan Kappāsika; mengalihyakinkan ketiga Kassapa bersaudara beserta seribu orang pengikut mereka. TAHUN KEDUA SAMPAI KEEMPAT 587 – 585 SEU/527-525/44-42 SEB Tempat kediaman musim hujanVihara Hutan Bambu Pali Veluvanāramā; Sanskerta Venuvanāramā, di dekat Rājagaha, Magadha. Peristiwa utamaBuddha memenuhi janji kepada Raja Bimbisāra; menerima Vihara Veluvana sebagai pemberian dana; menyabdakan Nasihat Menuju Pembebasan Pali Ovāda Pāṭimokkha; Sanskerta Avavāda Prātimokṣa[2]; menunjuk Sāriputta dan Moggallāna sebagai siswa bhikkhu utama Pali aggasāvaka; Sanskerta agraśrāvaka; mengunjungi Kapilavatthu; mempertunjukkan mukjizat ganda Pali yamaka pāṭihāriya; Sanskerta yamaka prātihārya; menahbiskan Pangeran Rāhula dan Pangeran Nanda; mengukuhkan Raja Suddhodana, Ratu Mahāpajāpatī Gotamī, serta Yasodharā ke dalam arus kesucian; menahbiskan keenam pangeran Sākya Ānanda, Anuruddha, Bhaddiya, Bhagu, Devadatta, dan Kimbila; bertemu dengan Anāthapiṇḍika; menerima Vihara Hutan Jeta Jetavana di Sāvatthi, Kosala, sebagai pemberian dana dari Anāthapiṇḍika yang telah membelinya dari Pangeran Jeta; bertemu dengan Raja Pasenadi Sanskerta Prasenajit dari Kosala; mendamaikan sengketa antara suku Sākya dan Koliya; membabarkan Mahāsamaya Sutta. TAHUN KELIMA 584 SEU/524 SU/41 SEB Tempat kediaman musim hujanBalairung Puncak Pali Kūtāgārasālā; Sanskerta Kūṭāgārasālā, Mahāvana, di dekat Vesāli, Vajjī. Peristiwa utamaWafatnya Raja Suddhodana; Sri Bhagavā mengizinkan Ratu Mahāpajāpatī Gotamī bersama kelima ratus putri untuk menjadi bhikkhunī; mendirikan Saṅgha Bhikkhunī; membabarkan Khotbah Penyaluran Derma Pali Dakkhiṇāvibhaṅga Sutta; Sankserta Dakṣiṇāvibhāga Sūtra. TAHUN KEENAM 583 SEU/523 SEU/40 SEB Tempat kediaman musim hujanBukit Mankula Pali Mankulapabbata; Sanskerta Mankulaparvata, di dekat Kosambī, Vamsā. Peristiwa utamaRatu Khemā dari Magadha menjadi bhikkhunī dan kemudian ditunjuk sebagai salah satu dari kedua siswi bhikkhunī utama bersama dengan Uppalavannā dari Sāvatthi; Sri Bhagavā melarang mempertunjukkan mukjizat demi keuntungan pribadi dan harga diri mereka sendiri; Sri Bhagavā melakukan mukjizat ganda. TAHUN KETUJUH 582 SEU/522 SEU/39 SEB Tempat kediaman musim hujanSurga Tāvatiṃsa Sankserta Trāyastriṃśa Peristiwa utamaBuddha melakukan mukjizat; melakukan pembabaran Abhidhamma[3] di Surga Tāvatiṃsa; Ciñcāmānavikā dari Sāvatthi, memfitnah Sri Bhagavā di Vihara Jetavana. TAHUN KEDELAPAN 581 SEU/521 SEU/38 SEB Tempat kediaman musim hujanHutan Bhesakala Pali Bhesakalāvana; Sanskerta Bhēśkalāvana, di dekat Sumsumāragiri, Distrik Bhaggā, Vamsā. Peristiwa utamaPangeran Bodhi Bodhirājakumāra mengundang Sri Bhagavā ke Kokanada, istana barunya, untuk menerima dana makanan dan Sri Bhagavā membabarkan Khotbah kepada Bodhirājakumāra Pali Bodhirājakumāra Sutta; Sanskerta Bodhirājakumāra Sūtra. TAHUN KESEMBILAN 580 SEU/520 SEU/37 SEB Tempat kediaman musim hujanVihara Ghosita Pali Ghositārāma; Sanskerta Ghuṣitārāma di Kosambī, Vamsā. Peristiwa utamaMāgandiyā membalas dendam karena Sri Bhagavā menolaknya sebagai istri; terjadi sengketa di antara para bhikkhu di Kosambī. TAHUN KESEPULUH 579 SEU/519 SEU/36 SEB Tempat kediaman musim hujanHutan Kecil Rakkhita Pali Rakkhitavanaṣaṇḍa; Sanskerta Rakṣitavanaṣaṇḍa di dekat Desa Pārileyyaka, Vamsā. Peristiwa utamaKarena terjadi sengketa yang berkepanjangan di antara para bhikkhu di Kosambī, Sri Bhagavā akhirnya menyendiri di Hutan Belukar Rakkhita, di dekat Desa Pārileyyaka, ditemani oleh gajah Pārileyyaka. Pada penghujung kediaman musim hujan tersebut Ānanda, atas nama para warga Sāvatthi, mengundang Sri Bhagavā untuk kembali ke Sāvatthi. Para bhikkhu Kosambī yang bersengketa tersebut kemudian memohon maaf kepada Sri Bhagavā dan kemudian menyelesaikan sengketa mereka. TAHUN KESEBELAS 578 SEU/518 SEU/35 SEB Tempat kediaman musim hujanVihara Dakkhināgiri Sankserta Dakṣiṇagiri, di Avanti. Peristiwa utamaBuddha mengalihyakinkan Brahmin Kasī-Bhāradvāja dari Desa Ekānalā, dengan membabarkan Khotbah kepada Kasī-Bhāradvāja Pali Kasī-Bhāradvāja Sutta; menuju ke Kammasadamma di Negeri Kuru serta membabarkan Khotbah Besar/Panjang tentang Perhatian Penuh Pali Mahā-satipaṭṭhāna Sutta; Sankserta Maha-smṛtyupasthāna Sūtra dan Khotbah Besar/Panjang tentang Penyebab Pali Mahā-Nidāna Sutta; Sanskerta Mahā-Nidāna Sūtra. TAHUN KEDUA BELAS 577 SEU/517 SEU/34 SEB Tempat kediaman musim hujanVerañjā, di Pañcāla. Peristiwa utamaSri Bhagavā memenuhi undangan seorang brahmin di Verañja untuk melewatkan kediaman musim hujan sana. Sayangnya, waktu itu terjadi bencana kelaparan di sana. Akibatnya, Sri Bhagavā dan para siswa-Nya hanya memperoleh makanan mentah yang biasanya diberikan kepada kuda yang dipersembahkan oleh sekelompok pedagang kuda. TAHUN KETIGA BELAS 576 SEU/516 SEU/33 SEB Tempat kediaman musim hujanBukit Batu Cadas Cālikā Pali Cālikāpabbata; Sankserta Cālikāparvata, di Ceti[4]. Peristiwa utamaSetelah melewati kediaman musim hujan, Sri Bhagavā menuju ke Kota Bhaddiya di Anga untuk mengalihyakinkan sang hartawan Mendaka beserta istrinya yaitu Candapadumā, putranya yaitu Dhanañjaya, menantunya yaitu Sumanadevī, cucu putrinya yang berumur tujuh tahun yaitu Visākhā, serta pembantunya yaitu Punna; mengalihyakinkan Sīha, seorang panglima di Vesali yang sekaligus merupakan pengikut Nigantha Nātaputta[5]; membabarkan Khotbah Besar/Panjang Nasihat kepada Rāhula Pali Mahā-rāhulovāda Sutta; Sanskerta Mahā-rāhulovāda Sūtra. TAHUN KEEMPAT BELAS 575 SEU/515 SEU/32 SEB Tempat kediaman musim hujanVihara Jetavana, di Savatthi, Kosala. Peristiwa utamaRāhula, putra dari Pangeran Siddhattha yang kini menjadi Buddha, menerima penahbisan lanjut dan menjadi bhikkhu; Sri Bhagavā membabarkan Khotbah Kecil/Singkat kepada Rāhula Pali Cūla-rāhulovāda Sutta; Sanskerta Kṣulla-rāhulovāda Sūtra, Khotbah mengenai Bukit Semut Pali Vammīka Sutta; Sanskerta Valmīka Sūtra dan Khotbah Pali Sūciloma Sutta; Sanskerta Sūciloma Sūtra. TAHUN KELIMA BELAS 574 SEU/514 SEU/31 SEB Tempat kediaman musim hujanVihara Nigrodha Pali Nigrodhārāma; Sanskerta Nyagrodhārāma di Hutan Kecil Pohon Jawi[6], di Kapilavatthu, Kosala. Peristiwa utamaWafatnya Raja Suppabuddha, ayah-mertua Pangeran Siddhattha Sri Buddha. TAHUN KEENAM BELAS 573 SEU/513 SEU/30 SEB Tempat kediaman musim hujanCetiya Aggālava, Kota Ālavī, di antara Sāvatthi Kosala dan Rājagaha Magadha. Peristiwa utamaSri Bhagavā menyelamatkan Ālavaka yang juga dikenal dengan nama Hatthaka. TAHUN KETUJUH BELAS 572 SEU/512 SEU/29 SEB Tempat kediaman musim hujanVihara Hutan Bambu Pali Veluvanāramā; Sanskerta Venuvanāramā, Kalandakanivāpa suaka alam tempat memberi makan tupai hitam, di dekat Rājagaha, Magadha. Peristiwa utamaBuddha membabarkan Khotbah Kemenangan Pali Vijaya Sutta; Sanskerta Vijaya Sūtra; membabarkan Khotbah Nasihat kepada Sigāla Pali Sigālovāda Sutta; Sanskerta Sr̥gālovāda Sūtra, seorang perumah tangga muda Sigāla . TAHUN KEDELAPAN BELAS Sampai KESEMBILAN BELAS 571 – 570 SEU/511-510 SEU/28-27 SEB Tempat kediaman musim hujanBukit Batu Cadas Cālikā Pali Cālikāpabbata; Sankserta Cālikāparvata, di Ceti. Peristiwa utamaSri Bhagavā memberikan khotbah kepada seorang gadis penenun beserta ayahnya di Kota Ālavī; Sri Bhagavā mengalihyakinkan Kukkutamitta sang pemburu dan keluarganya. TAHUN KEDUA PULUH 569 SEU/509 SEU/26 SEB Tempat kediaman musim hujanVeluvanāramā, di dekat Rājagaha, Magadha. Peristiwa utamaBuddha menetapkan aturan-aturan Pārājika[7]; menunjuk Ananda sebagai pengiring tetap; pertemuan pertama dengan Jīvaka Komārabhacca; mengalihyakinkan Angulimāla; Sri Bhagavā dituduh atas pembunuhan Sundarī; meluruskan pandangan salah Brahmā Baka; menundukkan Raja Kobra Pali, Sanskerta Nāga Nandopananda. TAHUN KEDUA PULUH SATU SAMPAI KEEMPAT PULUH EMPAT 568-545 SEU/508-485/25-2 SEB Tempat kediaman musim hujanVihara Jetavana dan Vihara Pubba Pali Pubbārāma; Sanskerta Purvārāma di Sāvatthi, Kosalā. Peristiwa utamaKisah mengenai Raja Pukkusāti dari Gandhāra; Sri Bhagavā membabarkan Khotbah kepada Ambattha Pali Ambattha Sutta; Sanskerta Ambartha Sūtra di Desa Iccānanagala; penyerahan Vihara Pubba sebagai dana; wafatnya Raja Bimbisāra; Bhikkhu Devadatta berusaha membunuh Sri Bhagavā; menjinakkan Gajah Nālāgiri; Bhikkhu Devadatta menciptakan perpecahan di dalam Sangga; meninggalnya Bhikkhu Devadatta; pertemuan Sri Bhagavā dengan Raja Ajatāsattu Sanskerta Ajātaśatru; wafatnya Raja Pasenadi dari Kosala; membabarkan Khotbah mengenai Pertanyaan Sakka Pali Sakka Pañha Sutta; Sanskerta Śakra Praśna Sūtra. TAHUN KEEMPAT PULUH LIMA 544 SEU/484 SEU/1 SEB Tempat kediaman musim hujanDesa Beluva/Veluva Pali Beluvagāma; Sanskerta Veluvagrāma, di dekat Vesāli, Vajjī. Peristiwa utamaBuddha mengalihyakinkan Upāli Gahapati, siswa utama Nigantha Nātaputta; membabarkan ketujuh kondisi kesejahteraan bagi para penguasa dunia dan para bhikkhu; menyampaikan ceramah Cermin Dhamma Pali Dhammādāsa dhammapariyāya; Sanskerta Dharmādarśa Dharmaparyāya; menerima Hutan Mangga Pali Ambapālivana; Sanskerta Amrapālivana dari Ambapālī sebagai persembahan dana; wafatnya Sāriputta dan Moggallāna; Sri Bhagavā sakit keras; membabarkan Empat Sumber Acuan Utama Pali Cattāro Mahāpadesā; Sankserta Catu Mahāpadeśa; menyantap Sūkaramaddava[8] yang dipersembahkan oleh Cunda Kammāraputta Sanskerta Kārmāraputra – Putra Pandai Besi di Pāvā, Mallā ; menerima petapa kelana Subhadda sebagai siswa terakhir. KEGIATAN SEHARI-HARI SRI BHAGAVĀ Selama empat puluh lima tahun Sri Bhagavā membabarkan Dhamma dengan semangat. Dan setiap hari Ia melakukan kegiatan rutin-Nya tanpa mengenal jenuh. Kegiatan harian yang dilakukan Sri Bhagavā bisa dibagi ke dalam lima sesi, yaitu 1 kegiatan pagi pure-bhatta kicca, 2 kegiatan siang pacchā-bhatta kicca, 3 kegiatan waktu jaga pertama malam purimāyāma kicca, 4 kegiatan waktu jaga pertengahan malam majjhimāyāma kicca, dan 5 kegiatan waktu jaga terakhir malam pacchimāyāma kicca. Kegiatan Pagi sekitar pukul – Sri Bhagavā bangun pukul kemudian setelah mandi Ia bermeditasi selama satu jam. Setelah itu pada pukul Beliau memindai dunia dengan Mata Buddha-Nya untuk melihat siapa yang bisa Ia bantu. Pukul Sri Bhagavā menata jubah bawah, mengencangkan ikat pinggang, mengenakan jubah atas, membawa mangkuk dana-Nya, lalu pergi menuju ke desa terdekat untuk menerima dana makanan. Terkadang Sri Bhagavā melakukan perjalanan untuk menuntun beberapa orang ke jalan yang benar dengan kebijaksanaan-Nya. Setelah menyelesaikan makan sebelum tengah hari, Sri Bhagavā akan membabarkan khotbah singkat; Ia akan mengukuhkan sebagian pendengar dalam Tiga Pernaungan. Kadang Ia memberikan penahbisan bagi mereka yang ingin memasuki Persamuhan. Kegiatan Siang sekitar pukul – Pada waktu ini, biasanya digunakan oleh Sri Bhagavā untuk memberikan petunjuk kepada para bhikkhu dan untuk menjawab pertanyaan dari para bhikkhu. Setelah itu Sri Bhagavā akan kembali ke bilik-Nya untuk beristirahat dan memindai seisi dunia untuk melihat siapa yang memerlukan pertolongan-Nya. Lalu, menjelang senja, Sri Bhagavā menerima para penduduk kota dan desa setempat di aula pembabaran serta membabarkan khotbah kepada mereka. Saat Sri Bhagavā membabarkan Dhamma, masing-masing pendengar, walaupun memiliki perangai yang berlainan, berpikir bahwa khotbah Sri Bhagavā ditujukan secara khusus kepada dirinya. Demikianlah cara Sri Bhagavā membabarkan Dhamma, yang sesuai dengan waktu dan keadaannya. Ajaran luhur dari Sri Bhagavā terasa menarik, baik bagi khalayak ramai maupun kaum cendekia. Kegiatan Waktu Jaga Pertama Malam sekitar pukul – Setelah para umat awam pulang, Sri Bhagavā bangkit dari duduk-Nya pergi mandi. Setelah mandi, Sri Bhagavā mengenakan jubah-Nya dengan baik dan berdiam sejenak seorang diri di bilik-Nya. Sementara itu, para bhikkhu akan datang dari tempat berdiamnya masing-masing dan berkmpul untuk memberikan penghormatan kepada Sri Bhagavā. Kali ini, para bhikkhu bebas mendekati Sri Bhagavā untuk menghilangkan keraguan mereka, untuk meminta nasihat-Nya mengenai kepelikan Dhamma, untuk mendapatkan objek meditasi yang sesuai, dan untuk mendengarkan ajaran-Nya. Kegiatan Waktu Jaga Pertengahan Malam sekitar pukul – Rentang waktu ini disediakan khusus bagi para makhluk surgawi seperti para dewa dan brahma dari sepuluh ribu tata dunia. Mereka mendekati Sri Bhagavā untuk bertanya mengenai Dhamma yang selama ini tengah mereka pikirkan. Sri Bhagavā melewatkan tengah malam itu sepenuhnya untuk menyelesaikan semua masalah dan kebingungan mereka. Kegiatan Waktu Jaga Terakhir Malam sekitar pukul – Rentang waktu ini dipergunakan sepenuhnya untuk Sri Bhagavā sendiri. Pukul sampai Sri Bhagavā berjalan-jalan untk mengurangi penat tubuh-Nya yang menjadi kaku karena duduk sejak fajar. Pukul sampai dengan perhatian murni, Ia tidur di sisi kanan-Nya di dalam Bilik Harum-Nya Gandhakuti[9]. Pada pukul sampai Sri Bhagavā bangkit dari tidur, duduk bersilang kaki dan bermeditasi menikmati Nibbāna. Demikianlah kegiatan harian yang dilakukan oleh Sri Bhagavā, yang Ia lakukan sepanjang hidup-Nya. Catatan [1] Vihāra atau vihara dibaca wihara secara harfiah berarti tempat tinggal. Sering disebut juga dengan saṅghārāma atau ārāma Indonesia asrama, merupakan bangunan yang dipergunakan oleh para bhikkhu dan bhikkhunī untuk menetap hanya pada masa berdiam musim hujan. Istilah Indonesia untuk “biara” berasal dari kata vihāra.[2] Pātimokkha juga merupakan istilah untuk kode atau peraturan dasar disiplin keviharaan baca kewiharaan untuk para bhikkhu dan bhikkhunī.[3] Abhidhamma Sanskerta Abhidharma, dari kata abhi- penguasaan, terhadap, lanjut dan dhamma/dharma ajaran, kebenaran. Abhidhamma bisa diterjemahkan sebagai Penguasaan Dhamma atau Ajaran Lanjut.[4] Ceti atau Cetiya Sanskerta Chedi merupakan salah satu dari 16 Mahājanapada Negara Besar, yang lainnya Kāsī, Kosala, Anga, Magadha, Vajji, Mallā, Vamsā, Kuru, Pañcāla, Macchā, Sūrasena, Assaka, Avantī, Gandhāra dan Kamboja.[5] Sanskerta Nirgrantha Nathaputra. Juga dikenal dengan nama Mahavira atau Vardhamana, merupakan seorang guru aliran Nigantha/Nirgrantha atau Jain.[6] Pohon banyan India Pali Nigrodha; Sanskerta N’yagrōdha; Latin Ficus benghalensis.[7] Peraturan mengenai pelanggaran yang serius, berat, yang tidak dapat diperbaiki, dan menyebabkan pelanggarnya dikeluarkan dari kebhikkhuan.[8] Sūkaramaddava Sanskerta Sūkaramārdava, adalah nama dari sejenis makanan. Hingga sekarang, jenis makanan ini masih belum diketahui secara pasti. Secara harfiah berasal dari kata sūkara babi dan maddava lunak. Menurut Dīgha Nikāya Atthakathā kitab komentar, Sūkaramaddava atau daging babi lunak adalah daging dari seekor babi yang tidak terlalu muda atau terlalu tua, yang sudah tersedia pavattamaṃsa dan tidak dibunuh khusus untuk Sri Bhagavā; sebagian ahli menafsirkannya sebagai beras lunak yang ditanak dengan lima macam makanan olahan dari sapi; sebagian ahli lainnya mengatakan bahwa makanan tersebut adalah makanan khusus yang dipersiapkan dengan ramuan tertentu yang disebut rasāyana yang lezat dan sangat bergizi, dan sementara sebagian ahli lainnya mengatakan bahwa makanan tersebut adalah tumbuhan jamur yang digemari oleh babi.[9] Gandhakuti secara harfiah dari kata “gandha” harum dan “kuti” bilik, pondok. DAFTAR ISI PendahuluanKelahiran dan Kehidupan Istana Pangeran SiddhatthaPelepasan Keduniawian Pangeran SiddhatthaKehidupan Petapa GotamaPencerahan AgungPemutaran Roda DhammaEmpat Puluh Lima Tahun Membabarkan DhammaPerjalanan Terakhir Buddha GotamaMahaparinibbana Buddha Gotama

jelaskan tentang khotbah ketiga yang diberikan oleh buddha